Jaksa Masuk Sekolah, Filter Siswa Menjadi Lebih Waspada Hukum

OKU, Peristiwaterkini – Kejaksaan Negri (Kajari) OKU mengadakan kegiatan Jaksa Masuk Sekolah yang diadakan di SMAN 2 OKU pada Selasa (10/10/2023).

Kegiatan ini diadakan di aula SMAN 2 OKU dengan melibatkan 288 siswa siswi kelas 11, dan mengundang sesepuh serta kepala sekolah SMA yang ada di kabupaten OKU yang dimulai sejak pukul 10.00 WIB.

Dalam kegiatan ini kepala kejaksaan Negri (Kajari) Choirun Parapat SH MH diwakili oleh Kasi intelijen Variska Ardina Kordiansyah, S.H., M.H menerangkan tentang bahayanya tentang penyalahgunaan narkoba, dan bullying.

Antusias siswa siswi sangat tinggi, hal ini terlihat banyaknya siswa yang bertanya mengenai bahayanya pengguna narkoba dan apa saja hukumnya, serta bagaimana hukumnya tentang bullying yang melakukannya.

Siswa yang bertanya mendapatkan suvenir dari kejaksaan Negri usai kegiatan, dan di serahkan langsung oleh kejaksaan Negri OKU dan kepala sekolah yang hadir dalam kegiatan ini.

Kasi Intel Kejari yang disapa Variska mengatakan kegiatan jaksa masuk sekolah di adakan rutin oleh kejaksaan. “Kegiatan jaksa masuk sekolah kita laksanakan sebanyak 4 kali setahun itu minimal,” katanya.

Dijelaskannya, materi yang kita jelaskan tentang bahanya penggunaan narkoba, anti bullying, Sauber bullying dan pendidikan anti korupsi , karena anak anak belum tau tentang Korupsi, serta undang-undangnya, jelasnya saat ditanyai portal Peristiwaterkini.id usai kegiatan.

Kepala sekolah SMAN 2 OKU Agus Sudiana mengatakan, kegiatan ini adalah program kejaksaan, dan kita menyambutnya dengan baik, apalagi materi yang disampaikan relevan dengan permasalahan yang terjadi di sekolah.

“Kita menyambutnya dengan baik dan relevan dengan permasalahan yang terjadi di sekolah misalnya kasus perundungan atau bullying, kasus kekerasan antar siswa termasuk di dalamnya juga kekhawatiran kita terhadap masuknya narkoba,” katanya.

Jadi, lanjutnya, dengan adanya Jaksa masuk sekolah, untuk memfilterisasi agar anak-anak kita memiliki sikap serta kewaspadaan, dan jika memang ada indikasi terjadinya masalah perundungan, permasalahan yang terjadi tidak sampai terulang apalagi sampai meluas.

Harapannya dengan kegiatan ini menjadi antibodi anak bagi mereka yang memang terindikasi pernah melakukan, atau pernah menjadi korban, ini ada komitmen untuk menjalin kebersamaan saling pengertian satu dan lain-lain.

“Sehingga tidak terjadi seperti perundungan kekerasan, nah kemudian di sisi lain kita juga ingin menampilkan bahwa sekolah kita inten, dengan upaya-upaya yang terbentuknya sikap kekeluargaan, sekolah yang nyaman aman bagi anak,” pungkasnya. (gun)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *