Kembali Ke Jalan, Masyarakat Cuman Bisa Curhat

OKU, Peristiwaterkini – Masyarakat kabupaten Ogan Komering ulu kembali menggelar aksi damai terkait masih maraknya angkutan batubara yang melintas di kabupaten OKU, Senin (21/8/2023).

Masyarakat OKU yang mengatas namakan Aktivis masyarakat OKU turun ke jalan lintas Sumatra, aksi ini menuntut agar pemerintah provinsi Sumatra Selatan memanggil perusahaan tambang dan transportasi angkutan batubara.

Dalam aksinya ini menuntut agar Pemprov Sumsel memanggil pihak perusahaan agar bertanggung jawab terhadap kerusakan jalan yang ditimbulkan selama ini.

Koordinator aksi Evan Darlevi mengatakan, kembalinya aksi ini bertujuan agar pemerintah lebih peka terhadap keluhan masyarakat terkait melintasnya mobil angkutan batubara setiap hari.

“Dalam aksi ini kita mencurahkan semua keluhan masyarat OKU, khusunya pengguna jalan yang resa akibat jalan rusak yang ditimbulkan oleh angkutan batubara yang setiap hari melintas,” katanya.

Dalam aksi ini para aksi meminta kepada Pemprov jangan terkesan menutup mata, terkait kerusakan jalan yang ditimbulkan selama ini.

Terkait angkutan batubara yang bebas melintas ini, lanjut Evan, di duga sebagai penyumbang besarnya kerusakan jalan selama ini.

“Terkait kerusakan jalan ini pengangkut batubara yang melintas setiap hari dari pagi hingga malam harus ditindak tegas,” ungkapnya.

Bebasnya angkutan batubara yang melintas di jalan wilayah OKU ini menjadi pertanyaan besar, kenapa bisa bebas melintas, meski muatan melebihi kapasitas yang ditentukan.

“Jalan ini dibangun oleh negara untuk kenyamanan pengguna jalan, bukan untuk akses jalan angkutan yang melebihi kapasitas, akibatnya pengguna jalan menjadi terganggu,” jelasnya.

Sejak terbitnya Peraturan Gubernur Sumatera Selatan nomor : 74 Tahun 2018 tentang pencabutan Pergub nomor 23 Tahun 2013 tentang tata cara pengangkutan batubara melalui jalan umum masyarakat sangat senang dan sangat mendukung sekali.

Sebab dengan adanya aktivitas pengangkutan batubara dijalan umum, sangat terdampak dan yang dirugikan adalah masyarakat OKU.

Disepanjang jalan lintas tengah sumatera selain harus menghisap debu dan juga menganggu aktivitas masyarakat, kondisi jalan selalu rusak parah serta sering mengakibatkan kemacetan bahkan kecelakaan dijalan raya.

“Sepertinya kami masyarakat OKU tidak lagi di hiraukan, aturannya sudah jelas angkutan batubara harus melalui jalan khusus batubara,” tegasnya.

Dalam hal ini, lanjutnya, wajar saja kami selaku masyarakat OKU mempertanyakan aturan tersebut dan sejauh mana keseriusan dari pemerintah khususnya pemerintah Sumsel dalam bertindak di lapangan.

“Sejak angkutan batubara melintas di wilayah OKU tidak ada untungnya bagi masyarakat, jika pun ada itu hanya di nikmati oleh segelintir orang saja,” tandasnya.

Dalam aksi ini ada beberapa poin 3 poin yang di sampaikan

  1. Mendesak Kapolres OKU dan Jajaran Pemerintah Kabupaten OKU dan Provinsi Sumatera Selatan agar segera melakukan penertiban mengenai angkutan Batubara ini.
  2. Meminta kepada Gubernur Sumsel agar mengkajj ulang Perda Sumsel Nomor : 05 tahun 2011:tentang larangan Angkutan Batubara yang melintas di jalan umum sesuai Pasal 52.
  3. Mendesak Gubernur Sumsel agar segera mencabut Pergub nomor 74 tahun 2018 tentang pengaturan angkutan batubara dan Perda Provinsi Sumatera Selatan nomor : 05 tahun 2011 tentang larangan Angkutan batubara yang melintas di jalan umum. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *