Mus Tato Di Pidana 13 Tahun Atas Pembunuhan BPD Desa Sebanyak 49 Tusukan

OKU, Peristiwaterkini.id – Terdakwa Musthafa Kamal alias Mus Tato (52), akhirnya di vonis bersalah usai melaksanakan proses persidangan cukup panjang.

Majelis hakim memvonis Mus Tato dengan hukuman penjara 13 tahun, putusan ini lebih ringan dibandingkan tututan sebelumnya yang mencapai 14 tahun penjara.

Kasi Pidum Kejari Ogan Komering Ulu Erik EB Mudigdho SH saat ditemui awak media mengatakan, terdakwa Mus tato terbukti bersalah memenuhi pasal 338 KUHP.

“Pasal 340 tidak terbukti untuk ancaman, karena terdakwa bertemu tidak sengaja dengan korban saat mencari ikan,” katanya Senin, 29 Mei 2023.

Disebutkan Erik, Hal yang memberatkan, perbuatan terdakwa tergolong sadis, karena melakukan tusukan ke tubuh korban hingga 49 kalo.

Terdakwa sebelumnya pernah melakukan tindakan kejahatan (residivis) juga yaitu kasus pembunuhan, namun meringankan, pelaku berterus terang dan mengakui perbuatannya selama persidangan.

Terdakwa sudah menerima apa yang menjadi keputusan dari pengadilan, “jadi tidak lagi melakukan banding, tinggal JPU apakah akan melakukan banding atau tidak,” ungkapnya.

Sebelumnya pelaku terjerat pasal 340 KUHP (pembunuhan berencana), Maksimal ancaman pidananya hukuman mati atau seumur hidup, dan Pasal 338 KUHP.

Sebelumnya, pada bulan Oktober 2022 tersangka sudah tertangkap, Mus tato mengakui sudah melakukan pembunuhan pada korban Muhammad Sajili )mantan BPD Desa Karang Dapo), kejadian pada Selasa sore (21/6/2022) sekitar jam 15.30 WIB. Mayat M Sajili ditemukan di perairan sungai Ogan Desa Karang Dapo,

Terungkap pelaku Musthafa Kamal alias Mus Tato (52) merupakan mantan anggota BPD desa Karang Dapo, motif dari pelaku membunuh korban karena sakit hati, sebab korban menggantikan jabatannya.

Dalam aksinya ini, pelaku beraksi sendirian saat membunuh korban, mayat korban di buang ke sungai, “Ya seperti itulah (sakit hati),” kata Musthafa.

Korban di buang di sungai oleh tersangka dengan tujuan agar warga tidak tahu jika ada kejadian tersebut, setelah kejadian terangkan mengaku kabur ke Provinsi Lampung, dan tidak pernah kembali lagi ke rumahnya. Di pesisir Lampung korban tinggal dengan keluarga dari sebelah istrinya dan bekerja sebagai nelayan, (*).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *